Selasa, 30 Juni 2009

Pengantar Ilmu Sosial
Pendidikan IPS FITK-UIN Syahid Jakarta 2008
m. farid, M.Si
SOSIOLOGI Perancis
Tiga tokoh utama:
Claude Henri Saint-Simon (1760 – 1825)
Auguste Comte (1798 – 1857)
Emile Durkheim (1858 – 1917)

Claude Henri Saint-Simon (1760 – 1825)
Beliau adalah gurunya A. Comte

Peran Penting Simon:
 Pengembangan teori Sosiologi konservatif
 Pengembangan teori Marxian Radikal

Dari sisi Teori Konservatif

 Ingin mempertahankan kehidupan masyarakat seperti apa adanya
 Tapi tidak ingin kembali ke kehidupan abad pertengahan.
 Karena ia seorang positivistis, ia yakin bahwa fonomena sosial sebaiknya dikaji dengan metoda ilmiah
 Dari sisi Teori Radikal
 Perlu reformasi sosialis terutama dalam hal sentralisasi perencanaan ekonomi
 Tidak berfikir sejauh yang dilakukan Marx
 Walaupun ia melihat kapitalis akan menggantikan bangsawan feodal, namun ia tdk membayangkan bahwa kelas buruh akan menggantikan kapitalis.


“Auguste Comte” Bapak Positivisme dan yang pertama menggunakan istilah “sosiologi” (1839)

Walaupun ia banyak dipengaruhi pemikir katolik Perancis (Bonald & de Maistre), tapi ia dapat lepas dari pengaruh dua pemikir tsb.


 A. Comte (lanjutan…)
Setidaknya terlihat dari dua alasan:
 Ia tdk berfikir ttg kemungkinan kembali ke abad pertengahan, karena ada faktor kemajuan ilmu dan industri.
 Ia mengembangkan teori yang lebih canggih dari pendahulunya untuk kajian sosiologi awal.
 A. Comte (lanjutan…)
Sosiologi = Fisika Sosial :
 Mempelajari “social static” yaitu struktur sosial yang ada.
 Mempelajari “social dynamic”, yaitu dinamika dan prubahan sosial.
“Dua-2nya unt menemukan hukum-2 sosial, tetapi yang kedua lebih penting”
 A. Comte (lanjutan…)
 Ia sangat memperhatikan reformasi sosial, terutama akibat dari Revolusi Perancis.

 Comte lebih menginginkan evolusi masyarakat dari pada revolusi.
 A. Comte (lanjutan…)
Landasan pendekatan Comte yaitu teori evolusi sosial, “bahwa setiap ilmu, masyarakat, individu, bahkan pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap;
1. theological,
2. metaphysical,
3. dan scientific atau positivistic.
 Teologi (Sbl era 1300 M)
Manusia menafsirkan gejala-gejala sekitarnya secara teologis, di mana kekuatan-keuatan Supranatural atau penguasa ghaib (dewa, tuhan) lah yang mengendalikan semua gejala tersebut.
(tokoh agama dan keteladanannya jadi dasar kehidupan sosial)
 Metafisika (1300 – 1800 M)
 Semua gejala tidak lagi dilihat sebagai pengaruh lansung dari Supranatural (roh, dewa, tuhan). Akal budi manusia ikut mencari pengertian dan kebenaran dengan membuat abstraksi-anstraksi dan konsep-konsep metafisik.
 Kekuatan abstraklah yang menjelaskan segala sesuatu, bukan dewa-dewa.
 Positifistik (1800 M)
 Pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukum yang dapat diuji dan dibuktikan secara empiris. Dalam positifisme agama harus ditinggalkan dalam melihat gejala alam dan yang berperan adalah akal budi (intelektual) dengan pembuktian empirik.
 Kalau dulu gereja, katedral dll menjadi jantung kehidupan masyarakat, kini berubah ke universitas, bank dan kawasan industri.
 Positifistik (lanjutan...)
Ilmu pengtetahuan positif oleh Comte, adalah „ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatian kepada gejala-gejala yang nyata dan konkrit tanpa ada halangan dari pertimbangan lainnya“. Maka dimungkinkan memberikan penilaian secara positif sejauh mana ilmu dapat mengungkap kebenaran.
 Emile Durkheim (1858 – 1917)
Salah seorang tokoh utama dalam perkembangan sosiologi sebagai satu disipli ilmu (akademis)
Pikiran utama beliau diakitkan dengan dua hal pokok:
 Otonomi sosial, sebagai tingkat realitas yang khas yang tidak dapat direduksi menjadi wilayah-wilayah psikologis individu,sehingga memerlukan penjelasan berdasarkan kerangkanya sendiri.
 Krisis modernitas, yang setidaknya ditandai dengan putusnya ikatan-ikatan sosial tradisonal yang disebabkan oleh indistrialisasi dan individualisme.

 Emile Durkheim (lanjutan...)
Dua hal tersebut sangat berkaitan erat, di mana masalah-masalah yang timbul karena runtuhnya tatanan sosial tradisional hanya akan dapat diatasi dengan pendekatan ilmiah dalam memahami masyarakat dan proses sosialnya.
 Kerangka Berfikir Durkheim-1
 Psikologi, biologi, atau ilmu alam lainnya telah gagal menjelaskan dengan lengkap masalah prilaku (kelakuan) manusia
 Kerangka Berfikir Durkheim-1
Dalam bukunya „De la Division du Travail Social“ (tesisnya tentang pembagian kerja)
 Peroses diferensiasi sosial yang membawa masyarakat dari serba sama menjadi pluralistis tidak memadai dijelaskan dengan faktor psikologis dan ilmu alam lainnya.
 Keinginan orang untuk maju, hidup lebih mewah dan bervariasi memang merupakan faktor psikologis yang dapat mendorong perubahan dari sederhana ke bentuk yang pluralistis, namun hal itu tidak cukup untuk membawa kita kepada suatu pengertian yang lengkap
 Kerangka Berfikir Durkheim-1
 Karena itu Dimunculkannya teori „Pembagian Kerja Sosial“

Dalam teori ini ia menjelaskannya dengan melihat latar belakang munculnya masyarakat pluralistis
 Masyarakat kuno bercirikan „Solidaritas Mekanis“

 Kesadaran individu lemah,
 Sebaliknya kesadaran kolektif menguasai sebagian besar kehidupan orang.
 Kepercayaan, perasan, prilaku yang sama mempersatukan mereka.
 Apa yang dicela oleh yang satu, semua ikut mencela.
 Masyarakat Modern bercirikan “Solidaritas Organis”

 Perbedaan antara individu justru membuat mereka bersatu, karena saling membutuhkan dan saling ketergantungan.
 Individualistis menonjol, kesadaran kolektif tidak lagi menguasai kehidupan. Masyarakat semakin tidak berhak mencampuri urusan pribadi.
 Masyarakat menghargai kebebasan, bakat, prestasi, karir individu, sehingga mendasari struktur masyarakat pluralistis. Penghargaan ini tidak muncul dengan sendrinya dari individu, tetapi datang dari masyarakat.
 Konsekuensi Masyarakat Modern
 Pembagian kerja muncul dari perubahan individu di bawah proses sosial.
 Keunikan pribadi-pribadi yang mendasari masyarakat modern menimbulkan bermacam-macam lapangan kerja.
 Lanjutan……
 Masyarakat individual tidak akan bisa bertahan tanpa kesadaran kolektif. „Nilai-nilai budaya, norma, dirumuskan sedemikian rupa sehingga mudah diinternalisasi oleh individu yang berbeda-beda“. Diperlukan organisasi-2 profesi untuk membantu proses internalisasi kesadaran kolektif.
 Karena pembagian kerja merupakan menifestasi dan konsekuensi dari perubahan nilai-nilai sosial, maka gejala itu harus diterangkan dengan gejala sosial lainnya.

 Kerangka Berfikir Durkheim-2
 Dalam bukunya „ Le Suicide“, Durkheim menjelaskan bahwa kasus bunuh diri merupakan gejala sosial. Ia menjelaskan:
bahwa faktor-faktor psikis seperti; putus asa, patah hati, rasa bosan, dan lain sebagainya tidak mampu memberikan penjelasan yang memadai tentang angka statistik bunuh diri.
 Lanjutan…
Dimunculkannya Teori „Penyebab utama abnormalitas adalah anomi dan ketimpangan terstruktur“

1. Tiadak ada peraturan yang sesuai dengan situasi kehidupan yang berubah.
2. Adanya kelas sosial yang memproduksi hak-hak istimewa turun temurun.
 Contoh kasus bunuh diri
Bunuh diri oleh Durkheim dilihat dari beberapa faktor, sehingga dia membedakan bunuh diri menjadi tiga tipe;
 Egois
 Altruistis
 Anomis
 Penjelasan…
 Faktor egoistis dan hidup sendiri; tidak menerima bantuan dari grup, hidup di luar grup. Ketika mentok jadi bunuh diri.
 Faktor Altruistis; mau mati demi kepentingan umum, karena saking kuatnya integritas sosial. (Kebalika dari egois)
 Faktor Anomis; karena kekaburan norma atau tanpa norma, kehilangan cita-cita, harapan, dan tujuan hidup. Penyebabnya bisa musibah.

 Kerangka Berfikir Durkheim-3
Agama tidak akan dapat dipahami dengan baik dan utuh kalau dilihat bahwa agama berdasarkan ketergantungan manusia dengan alam, atau rasa takut seperti pada agama animisme.

Teori asal-usul agama khas sosiologis.

“Agama dipandang sebagai fakta sosial, maka dalam mengkaji agama dimulai dengan melihat agama yang paling primitive sebagai dasar atau prototype untuk agama-agama lain”.
 Terimakasih…………….

Tidak ada komentar: