Tampilkan postingan dengan label Tijani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tijani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 September 2009

Shalawat Fatih

Ya Allah, Limpahilah Rahmat ke atas Junjungan Muhammad, yang membukakan apa yang tertutup, yang menamatkan apa yang terdahulu, yang membela kebenaran dengan kebenaran, yang memberi petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus.

Dan ke atas keluarganya bersesuaian dengan pangkat dan kedudukannya yang tinggi."
KEUTAMAAN :

Terbahagi kepada dua (2) :

a) Keutamaan yang dirahsiakan.

Rahsia kelebihannya tersimpan di dalam perbendaharaan pengetahuan Allah.


b) Keutamaan yang dibukakan.

i. Membaca 1 kali dalam sehari dijamin kebahagiaan dunia dan akhirat.

ii. Membaca 1 kali dapat menghapuskan semua dosa serta dikurniakan pahala semua tasbih, zikir dan doanya orang-orang tua dan muda yang terjadi pada waktu dibaca Al Fatih sebanyak 600,000 kali.

iii. 10 kali Selawat al-Fatih menyamai pahala ibadahnya wali “Ash sejuta tahun.

iv. 1 kali Selawat al-Fatih lebih utama daripada 600,000 selawat semua para malaikat, manusia dan jin pertama kali ia diciptakan sehingga sampai waktu dibacanya selawat al-Fatih.

v. Pembacaan ke 2 ke 3 dan seterusnya mendapatkan kembali pahala yang pertama dan seterusnya mendapatkan kembali pahala yang pertama dan seterusnya. Jelasnya bacaan ke 2 mendapat tambahan pahala bacaan pertama, bacaan ke 3 mendapat tambahan pahala bacaan pertama dan ke 2 dan seterusnya.

vi. Jika ingin bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, baca Selawat Al-Fatih sebanyak 1,000 kali selama tiga (3) malam berturut-turut (malam Rabu, Khamis dan Jumaat) dengan badan, pakaian serta tempat tidur yang suci.

vii. Dan banyak lagi yang tidak mampu dijelaskan di sini keutamaannya yang mana fadhilatnya hanya dapat dirasakan oleh para pengamalnya yang istiqamah.

dikuti/diambil dari: http://at-tijaniyah.blogspot.com/2009_06_23_archive.html

Ide Utama dan Pokok Pikiran

Thariqat Tijaniyah Adalah Syukur

Thariqat Tijaniyah merupakan thariqat yang menekankan syukur sebagai jalan menuju kepada Allah. Syukur menjadi pijakan pokok dan prinsip utama Thariqat Tijaniyah. Oleh karenanya nama lain Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat Syukur ( At-Thariqat Asy-Syukr ). Syeikh Ahmad At-Tijani berkata:

ide-utama-11

“Syukur adalah pintu terbesar Alloh dan jalan-Nya yang terlurus. Karena itu, setan selalu duduk di jalurnya, merintangi orang-orang mukmin melewatinya.”

Masih dalam kitab yang sama, beliau menyatakan pokok pikirannya:

ide-utama-2

“Pintu paling dekat menuju kepada Allah adalah pintu syukur. Siapa yang pada masa ini tidak masuk melalui pintu syukur, dia tidak akan dapat masuk. Karena jiwa manusia saat ini telah mengeras.”

Pokok pikiran utama ini diteruskan oleh murid terdekatnya, Sayid Ali Harazim bin Arabi yang berkata:

ide-utama-3

“Seluruh manusia tenggelam dalam lautan nikmat. Sungguh mereka tidak bersyukur.”

Pokok pikiran ini merupakan inti dari Firman Alloh SWT:

ide-utama-4

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. As-Saba’: 13)

Ayat-ayat yang menerangkan tentang nikmat dan syukur ini banyak ditemukan dalam Kitabulloh (Alqur’an).

Sayid Arabi ban Sa-ih berkata: “Tujuan tarbiyah dalam Thariqat ini (Tijaniyah) adalah untuk mengencangkan nafsu dan mempereratnya. Tanpa terus menyepi (khalwat) dan tanpa menghindar dari manusia atau masyarakat dan lain sebagainya. Tarbiyah seperti ini mengingatkan bahwa Thariqat ini sejalan dengan cara-cara yang telah ditempuh orang-orang shalih generasi pertama. Yang mana cara-cara ini merupakan thariqat (metode) yang masih asli. Yaitu thariqat yang mengembangkan syukur (Thariqah asy-syukr) dan bahagia dengan Alloh SWT sebagai Pemberi nikmat (Al-Mun’im) serta melakukan pelatihan hati (riyadhah qalbiyah).

Sebagaimana telah dipahami bahwa corak semua thariqat ada dua macam. Pertama thariqat yang pola utamanya adalah syukur dan bahagia dengan Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun’im). Tanpa memperberat dan membebani diri. Kedua adalah thariqat yang pola utamanya dibangun atas pelatihan-pelatihan (riyadhah), memperberat dan mempersulit diri, berjaga sepanjang malam (sahar) dan puasa sepanjang tahun (ju’).

Mengenai dua corak thariqat ini diterangkan lebih lanjut dalam Adz-Dzahab Al-Ibriz Fi Manaqib Sayyidi Abdil Aziz. Bahwa thariqat syukur adalah thariqat yang berasal dari sumber asli. Corak seperti ini ada dalam hati para nabi, para sahabat dan orang-orang suci lainnya. Yaitu metode ibadah dengan memurnikan penghambaan (ubudiyah) dan melepaskan semau pamrih. Secara bersamaan juga mengakui adanya kelemahan dan keteledoran serta ketidakmampuan dalam memenuhi hak ketuhanan (Rububiyah). Semua itu dilakukan dalam rangka memperoleh ketenangan hati dalam semua kondisi perjalanan waktu dan zaman. Setelah Allah mengetahui kejujuran mereka dalam melakukan semua itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka sesuatu yang pantas sebagai anugerah. Karena Allah mempunyai sifat dermawan (Karim). Pemberian itu berupa terbukanya tirai makrifat (fatah) dan pemahaman rahasia-rahasia iman kepada Alloh SWT.

Ketika ahli riyadhah mendengar perolehan semacam ini (fathul ma’rifat), maka mereka menjadikan itu sebagai tujuannya. Mereka berusaha mencapainya dengan puasa, shalat, menjaga malam dan terus menerus dalam penyepian (khalwah). Sehingga mereka memperoleh apa yang mereka inginkan.

Hijrah yang ditempuh thariqat corak pertama adalah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan kepada hasilnya seperti terbukanya tirai makrifat (fatah) atau tirai ghaib (kasyaf). Sedangkan hijrah ditempuh dari corak thariqat kedua adalah memperoleh beberapa kedudukan (martabat). Perjalanan thariqat pertama adalah hati. Sedangkan perjalanan thariqat kedua adalah badan. Fatah yang diperoleh dalam thariqat pertama adalah pemberian yang tidak dihasilkan oleh hamba yang meliriknya. Berbeda dengan fatah yang kedua.

Kedua corak thariqat ini semua benar. Hanya saja thariqat syukur lebih baik dan lebih murni. Keduanya selaras dalam hal pelatihan-pelatihannya (riyadhah). Namun riyadhah dalam thariqat corak pertama adalah hati yang senantiasa terkait dengan Alloh, berdiri di depan pintu-Nya dan mengungsi kepada-Nya dalam gerak dan diamnya. Meskipun secara lahinya tidak terlebih memperbesar ibadah. Karenanya para penempuhnya tetap melakukan puasa dan berbuka, shalat di sebagian malam dan tidur di sebagian lainnya, mendekati istri-istrinya, menunaikan semua aktifitas (wadhifah) syari’at. Adapun pelatihan-pelatihan (riyadhah) dalam thariqat kedua adalah kebalikannya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Sesungguhnya jiwa-jiwa manusia telah mengeras. Sehingga tidak dapat dikendalikan hanya dengan perhitungan amal (muhasabah) atau perdebatan akal (munaqasyah). Juga tidak tersentuh oleh bekas-bekas pelatihan(riyadhah). Akan tetapi ketika perasaan bahagia dengan Sang Pemberi Nikmat (AL-Mun’im) telah menguasai dirinya, maka semua kekerasan jiwa itu akan sirna dan menyatukan keretakan-keretakannya.”
dikutip/diambil dari: http://www.al-umm.tk/

Adab Tijani

Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:

“Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat behubungan baik dengan Allah.

Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syekh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari’at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi SAW). Anda harus mencintai Syekh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan.

Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syekh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syekh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir.

Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijak-kebijakan.

Jangan melantunkan wirid Syekh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum’at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi SAW akan hadir dalam pembacaan ketujuh.

Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual”.

Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.

Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.
dikutip/diambil dari:http://luluvikar.wordpress.com/2004/08/22/tarekat-tijaniyah/